Dr. Hadi S Pasaribu : Hilangnya Hutan Mengubah Hujan Menjadi Bencana

Share This Post

NEWS & TALKS | Pakar konservasi air dan tanah, Dr. Hadi Pasaribu, menegaskan bahwa rangkaian banjir besar yang melanda berbagai wilayah saat ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan akumulasi kegagalan manusia menjaga keseimbangan daerah aliran sungai (DAS).

Hal itu disampaikan rimbawan senior yang juga founder Forest for Life Indonesia ini, dalam sesi JUST TALKS di kanal Jurnal Politik TV, edisi 3 Desember 2025.

Menurutnya, bencana tersebut masuk dalam kategori banyaknya kejadian hidrometeorologi, di mana variabel utama—curah hujan—memang tidak bisa dikendalikan manusia.

“Curah hujan itu driving variable. Itu sunatullah. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengelola air ketika ia jatuh ke bumi,” ujarnya .

Namun kemampuan alam untuk “mengolah” air hujan itu kini nyaris hilang. Dr. Hadi menjelaskan bahwa dalam konsep DAS, keberadaan hutan menjadi kunci karena vegetasi memperdalam proses infiltrasi sehingga air meresap ke tanah dan keluar kembali sebagai mata air.

Tetapi media untuk memaksa air masuk ke dalam tanah kini tidak ada lagi. “Tumbuhan hutan sudah tidak ada. Hujan hanya singgah sebentar, lalu lari di permukaan sebagai run off,” katanya.

Situasi makin parah dengan munculnya tumpukan log kayu yang terbawa arus banjir hingga ke hilir. Ia membenarkan bahwa potongan-potongan kayu itu nyata dan tidak bisa disangkal. “Saya ada di hilir dan melihat sendiri log itu. Fakta berbicara,” tegasnya.

Pernyataan ini berbeda dari penjelasan Kementerian Kehutanan yang menyebut kayu-kayu tersebut hanyalah pohon tumbang akibat bencana. Publik pun meragukan klaim itu karena bentuk potongan kayu terlihat rapi dan berukuran seragam.

Dr. Hadi menilai pernyataan pemerintah menunjukkan adanya resistensi untuk menghadapi kenyataan. “Ada upaya pembenaran bahwa tidak terjadi apa-apa di hulu. Padahal, log itu muncul secara nyata,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan hutan tidak bisa hanya dilihat dari statistik luas administrasi, tetapi dari kondisi tegakan yang menentukan fungsi ekologis hutan, baik itu hutan lindung, konservasi, maupun produksi. “Jangan di atas kertas tertulis 100 persen, tapi hutannya tidak lagi berfungsi.”

Menurutnya, kerusakan yang terjadi bukan hal baru. Tiga tahun lalu tanda-tanda penebangan tidak terkontrol, ekspansi perkebunan, dan perluasan tambang sudah terlihat jelas.

“Banyak perusahaan kebun dan tambang menggunakan kawasan hutan, mengganti pohon dengan sawit. Tetapi kemampuan sawit menggantikan fungsi ekologi hutan itu tidak mungkin terjadi,” tegasnya.

Dr. Hadi menutup dengan peringatan tegas: selama DAS tidak diperbaiki dan hutan tidak dipulihkan, banjir tiba-tiba atau flash flood akan terus terjadi.

“Kalau media untuk memaksa air masuk ke tanah hilang, jangan harap musim kemarau membawa air, dan jangan kaget bila musim hujan membawa bencana.” pungkasnya. | red

JANGAN TUNGGU BANJIR ! FFLI dan Mulasara Buwana Ajak Kaum Muda Aksi Tanam Pohon

Gerakan “Tanam Pohon Cegah Bencana” menjadi seruan paling keras...

Ini Dia 5 Landasan Ideologi Gerakan Kami

ARTIKEL - Amal Mulasara Buwana | Dipilihnya Mulasara Buwana...

APA PRESTASI KE BUMI? Ahlan wa Sahlan Amal Mulasara Buwana

ARTIKEL | Amal Mulasara Buwana - Delapan puluh tahun...

KONSERVASI ALAM: Tak Cuma Kepentingan Ekologis

Artikel | Amal Mulasara Buwana - Seperti difahami bersama...