JANGAN TUNGGU BANJIR ! FFLI dan Mulasara Buwana Ajak Kaum Muda Aksi Tanam Pohon

Share This Post

Gerakan “Tanam Pohon Cegah Bencana” menjadi seruan paling keras bahwa mencegah bencana bukan lagi pilihan—tetapi kewajiban. Dan gerakan itu dimulai dari satu langkah sederhana yang menentukan: menanam pohon, sekarang, sebelum terlambat.

NEWS — MULASARA BUWANA MEDIA – Alarm bencana sudah berkali-kali berbunyi. Sumatera luluh lantak, ribuan rumah porak-poranda, dan korban terus bertambah. Kini, para rimbawan senior mengirim pesan tegas: “Jangan tunggu giliran Bogor!”

Seruan keras itu diwujudkan lewat aksi besar bertajuk “Tanam Pohon Cegah Bencana”, kolaborasi antara Forest for Life Indonesia (FFLI) dan komunitas kepemudaan Mulasara Buwana, yang akan digelar di Kota Bogor pada Desember ini—bulan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai momentum penghijauan nasional.

FFLI: Saatnya Bergerak, Bukan Berdebat

Mas Adjie dari FFLI tidak menutupi kekhawatirannya. Menurutnya, Bogor berada di garis bahaya yang sama dengan wilayah-wilayah yang kini tertimpa bencana.

Insya Allah Bapak Wali Kota Bogor Kang Dedi Rahiem dan tokoh Bogor Bapak MS Kaban akan hadir langsung menanam pohon. Ini bukan seremoni—ini langkah penyelamatan,” tegasnya.

Koordinasi dengan Pemkot Bogor berlangsung cepat, tanpa banyak basa-basi. Karena bagi FFLI, setiap hari yang terlewat adalah risiko yang terus membesar.

Mulasara Buwana: Generasi Muda Tidak Boleh Diam

Sementara itu, Bang Hamdan, Ketua Mulasara Buwana, memilih kata-kata yang tak kalah tajam.

Sumatera baru saja menunjukkan apa yang terjadi saat hutan hilang. Jangan tunggu kita menyesal. Menanam pohon adalah satu-satunya solusi jangka panjang,” ujarnya.

Hamdan menyebut generasi muda harus berada pada barisan paling depan. “Bogor tidak butuh penonton. Bogor butuh pelaku. Makanya saya ajak adik-adik pelajar turun langsung,” tegasnya

Lawan Bencana Dimulai dari Satu Bibit

Aksi ini bukan hanya kegiatan rutin akhir tahun. Ia adalah barisan perlawanan terhadap bencana yang setiap tahun semakin ganas. Dalam kondisi iklim yang makin tidak menentu, pohon menjadi satu-satunya “alat bertahan hidup” yang tidak bisa digantikan teknologi apa pun.

FFLI dan Mulasara Buwana menargetkan keterlibatan peserta, dari pelajar hingga komunitas pecinta alam. Lokasi tanam dipilih berdasarkan wilayah yang memiliki tingkat kerusakan dan potensi bencana paling tinggi di Bogor.

Seruan Terakhir: Sebelum Tanah Tidak Lagi Mampu Menyerap Air

Pesan dari para penggerak aksi ini jelas: kita tidak punya waktu lagi.
Bogor hanya tinggal menunggu giliran jika hutan dan ruang hijau terus menyusut.

Gerakan “Tanam Pohon Cegah Bencana” menjadi seruan paling keras bahwa mencegah bencana bukan lagi pilihan—tetapi kewajiban. Dan gerakan itu dimulai dari satu langkah sederhana yang menentukan: menanam pohon, sekarang, sebelum terlambat. | red.

Dr. Hadi S Pasaribu : Hilangnya Hutan Mengubah Hujan Menjadi Bencana

NEWS & TALKS | Pakar konservasi air dan tanah,...

Ini Dia 5 Landasan Ideologi Gerakan Kami

ARTIKEL - Amal Mulasara Buwana | Dipilihnya Mulasara Buwana...

APA PRESTASI KE BUMI? Ahlan wa Sahlan Amal Mulasara Buwana

ARTIKEL | Amal Mulasara Buwana - Delapan puluh tahun...

KONSERVASI ALAM: Tak Cuma Kepentingan Ekologis

Artikel | Amal Mulasara Buwana - Seperti difahami bersama...